Meet the Vampire

IMG_20170608_103405_656

2 Minggu yang lalu, gue diajak sama teman – teman ikutan program SBH (Sahabat Berbagi Harapan). Karena pesertanya anak – anak, gue langsung semangat buat ikutan! 🙂

Kegiatannya dilaksanakan di RS PMI Bogor. Pesertanya adalah anak – anak pengidap talasemia. Sampai tempat kegiatan gue sempat agak bingung, gue tidak membayangkan kondisinya akan seramai itu. Gue memang sempat baca kalau angka penderita talasemia di Indonesia cukup tinggi, disanalah gue diperlihatkan dengan fakta lapangannya.

Teman – teman pengidap talasemia harus rutin transfusi darah. Ada yang sebulan sekali, seminggu sekali, bahkan seminggu dua kali. Kenapa? Sedikit info tentang talasemia:

Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan yang mana tubuh tidak memproduksi cukup hemoglobin sehingga mengakibatkan jumlah hemoglobin di dalam tubuh sedikit. Hemoglobin adalah protein pembentuk sel darah merah yang berguna untuk mengikat oksigen dan membawanya ke seluruh tubuh. Saat tubuh kekurangan hemoglobin, sel darah merah tidak bisa berfungsi dengan baik dan hanya dapat hidup untuk waktu yang pendek. Karena sedikitnya sel darah merah sehat yang beredar ke seluruh tubuh, maka oksigen yang diantarkan ke seluruh tubuh tidak cukup dan mengakibatkan seseorang terkena anemia dengan gejala mudah merasa lelah, lemah, dan bahkan sesak napas. Orang dengan thalasemia dapat mengalami anemia ringan ataupun berat.

Mungkin karena sudah sangat terbiasa dengan aktivitas transfusi, mereka bahkan ada yang memegang kantong darahnya sendiri sambil jalan – jalan atau bermain. Ga kelihatan kaya orang sakit deh pokoknya, tetap ceria selayaknya anak – anak. Selama acara mereka antusias banget, ikutan main, nyanyi, ngaji, dengerin dongeng, dll.

Satu hal lagi yang bikin gue kagum, kekeluargaan antara pasien, keluarga pasien, dan perawat nya keren banget. Beneran udah seperti keluarga, saling mendoakan, saling menguatkan satu sama lainnya. Ibu perawatnya sempat bilang ke gue “doakan ya mba..biar ada mukjizat talasemia cepet ada obatnya”. Memang talasemia sampai sekarang belum ada obatnya di Indonesia, entah kalau di luar negeri ya. Salah satu ikhtiar yang bisa dilakukan ya memang transfusi darah. Efek dari talasemia yang tampak secara fisik disana adalah pertumbuhan yang terhambat, perut membesar, dan kulit yang gelap. Kemarin juga dikasih tau kalau penderita talasemia biasanya hanya bertahan sampai usia dewasa, tapi sempat baca juga kalau alhamdulillah rata – rata usia penderita talasemia di Indonesia sudah meningkat menjadi 45 tahun.

Ketika acara sudah selesai gue ngobrol sama seorang ibu, anak beliau yang kena talasemia. Beliau cerita kalau pasien disini kebanyakan orang – orang baru, anak beliau yang dari awal selalu transfusi disitu. Kemudian beliau bilang, “Iya mba..yang bareng sama anak saya dari dulu udah pada meninggal. Sering dapat telfon si A meninggal, besoknya lagi si B meninggal..”

Kadang (atau sering ?)gue merasa jadi manusia paling ga berguna, tapi padahal kebaikan sekecil apapun insyaAllah ada manfaatnya kok bagi orang lain. Contohnya, donor darah. Ga perlu  effort atau pengorbanan kan? Tapi ternyata ada loh teman – teman kita yang sangat membutuhkan darah kita, just your blood.

Semacam motivasi ke diri sendiri buat hidup sehat, soalnya beberapa kali mau donor darah ditolak gara – gara hb nya kurang. Bismillah ya..

IMG-20170609-WA0024IMG_20170608_103405_658

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s