Ziarah

Ziarah

Seorang teman memaksa gue untuk menemani keinginannya yang belum juga kesampean: nonton film “Ziarah”. Berhubunga situasi, waktu, dan tempat yang mendukung akhirnya gue mengiyakan untuk nonton Ziarah. Gue ga suka baca sinopsis, nonton trailer, atau baca resensi orang sebelum nonton film, lebih seru kalau nonton film tanpa ekspektasi apapun. Sejauh yang gue tau waktu itu, film Ziarah sejenis single story, mirip – mirip film dokumenter gitu. Ga semua orang suka dengan tipe film begitu, tapi gue sih oke aja.

“Mbah Sri belum bisa berdamai dengan masa lalunya.”

Cerita Mbah Sri dan suaminya harus terhenti ketika sang suami, Mbah Prawiro berpamitan untuk pergi ikut berperang dalam Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Perang telah usai, tapi Prawiro tidak juga kembali. Sri dengan kesabaran dan kesetiaan menunggu puluhan tahun hingga usianya sudah tidak lagi muda, meski Prawiro juga tidak pernah berjanji untuk kembali.  Menyadari usianya yang semakin senja, Sri mempunyai satu keinginan. Kalau meninggal nanti, dia ingin dimakamkan disamping makam suaminya. Dari keinginan itulah dia mulai berjalan untuk mencari makam suaminya. Dia mengumpulkan potongan – potongan informasi yang diperoleh dari beberapa orang yang ia temuni di perjalanan, dan terus berjalan tidak menyerah.

Cerita berjalan datar dengan fokus cerita pada perjalanan mbah Sri dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari makam suaminya. Ada juga anak laki – laki mbah Sri yang dengan sabar selalu mencari Mbah Sri yang sering menghilang dari rumah, mengingatkan dengan halus dan santun, membawa Mbah Sri kembali kerumah dan memijat badannya yang sudah renta.

Mbah Sri belum juga menyerah, sampai datanglah pertanda baik tentang keberadaan makam Prawito, suaminya. Mbah Sri telah menemukan makam Mbah Prawito, keinginan dia telah terwujud. Disinilah klimaksnya, tapi endinya belum juga tertebak. Konflik batin sengaja disisakan di akhir cerita, makam Mbah Prawito telah ditemukan, tapi…

sudah ada makam (Almh) Ny. Prawito yang menempati sebelah makam (Alm) Bp. Prawito.

Mbah Sri membersihkan kotoran yang ada di sekitar makam, menaburinya dengan bunga – bunga segar di atas makam Mbah Prawito, dan juga makam istrinya. Mbah Sri tegar, tapi gue enggak hahaha (nangisssss 😦 ).

Bahkan pada saat menuliskan kalimat kutipan di awal “Mbah Sri belum bisa berdamai dengan masa lalunya” gue masih ga setuju dengan pendapat itu karena terkesan menyalahkan dia yang belum ikhlas. Menurut gue apa yang dilakukan Mbah Sri wajar, ketika ada sesuatu yang masih mengganjal ya dia cari tau jawabannya. Ikhlas bukan berarti menyerah to?

Tapi sampai di akhir cerita gue jadi berubah pendapat sendiri “Iya. Ikhlas itu bukan menyerah, tapi lillah (asik!)”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s