Then We Called it, UTOPIA

Tepat pukul 22.45 dan aku baru saja menyelesaikan rapat dengan salah satu calon investor perusahaanku. Beginilah nasib seorang pendiri perusahaan yang baru saja terbentuk. Harus pintar-pintar berpromosi agar perusahaannya terus berjalan.

Apalagi pada siang harinya aku masih harus bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Bukannya rakus atau apa. Aku akan segera meninggalkan perusahaan itu setelah perusahaanku cukup matang untuk tempatku bersandar. Sejauh ini, biarlah aku hanya memantaunya dari jauh dan membiarkan salah satu sahabatku semasa kuliah yang mengoperasikannya.

Angin malam Jakarta akhir-akhir ini semakin besar dan tidak bersahabat. Segera ku masuki mobil kesayanganku ini. Dengan kecepatan sedang, aku menjalankankannya ke bilangan Kuningan. Tempat apartemenku berada. Bayangan akan kasur yang empuk telah terbayang di otakku.

Kunyalakan lampu apartemenku. Setelah merasakan kesegaran air yang membasuh tubuhku, aku pun bersiap untuk melaksanakan shalat isya. Hm.. Entah telah berapa lama aku meninggalkan ritual shalat tepat waktu.

Tring tring tring. Terdengar nada masuknya email ke ponselku. Aku memilih untuk shalat terlebih dahulu dan membacanya sebelum tidur nanti.

“Huh. Akhirnya.. sampai ke atas kasur juga.” Aku hampir saja memejamkan mata saat teringat email yang belum sempat terbaca tadi. Segera ku raih ponselku dan membaca email tersebut. Nama pengirimnya cukup membuatku terkejut.

 

Date: Wed, 2 May 2018 21:33

From: Deisya Tania <deisyania@yahoo.com>

To: Rira Putritama<riraputri@yahoo.com>

Hey, Mba! How’s Indonesia now days? Really miss you and the country. It’s spring here in Netherland. And you know what? Even its spring, the wind is really ‘wow’. So, I still have to wear coat everywhere.

I have big good news for you. But for me, it’s a bit confusing.

Averous proposes me.

Loe tau kan, kalau gue gak mau nikah sebelum lulus S2? Masalahnya adalah bahkan proposal skripsi gue baru ditolak yang artinya gue gak bisa nikah cepet-cepet. Tapi really, gue bener-bener gak tahu gimana bilangnya ke Averous. Sekarang hati gue bilang OK. Tapi segalanya bisa terjadi dalam 2 tahun kan? Baik dari sisi gue maupun dari sisi Averous?! Really need your opinion. Please.. Help me. As soon as possible ya!

Makasih banyak. Really miss you!

With love, Deisya 

Idih si Deisya. Jadi kangen sama anak yang satu itu. Gimana kabar Belanda ya? Dia pasti lagi galau dan dilematis banget. Rasain! Dulu pengen dapet Averous. Sekarang dilamar malah bingung.

Aku tersenyum ketika kembali membaca kalimat itu. Averous proposes me. Kenyataan bahwa Averous akhirnya melamarnya adalah kabar yang sangat membahagiakan. Hm.. sepertinya ada kemungkinan anak itu akan mendahuluiku.

Sesaat kemudian, aku telah terlempar kembali ke masa lalu. Masa di mana aku dan Deisya masih merasakan kegalauan sebagai seorang penggemar rahasia. Masa di mana ia berkata bahwa hanya akan menikah saat usianya telah menginjak 26 tahun atau telah menyelesaikan jenjang masternya. Dan aku bercita-cita untuk melaksanakan pernikahan saat telah berhasil mendapatkan gelar sarjana. Namun cita-cita tidak selalu berhasil terrealisasikan bukan? Dan itulah yang terjadi padaku. Tuhan memang mempunyai rencana lain. Hingga usiaku hampir mencapai 25 tahun, Allah belum juga menunjukkan pasangan hidup yang tepat untukku.

Dengan segera ku balas email sahabatku tercinta itu.

Date: Wed, 2 May 2018 21:33

From     : Rira Putritama<riraputri@yahoo.com>

To           : Deisya Tania <deisyania@yahoo.com>

Alhamdulillah. Everything is fine honey. Me and this country.  Bener-bener speechless waktu bacanya.

                SELAMAT YA DEISYA TANIA SAYAAAAAAAANG!!!

Ya ampun.. gue jadi ikut seneng dengernya. Tapi loe lagi bingung beneran ya? Ya udah. Bilang aja sama Averous yang sebenernya. Kalau loe gak bisa focus ke dua hal sekaligus. Dan loe pengen kelarin S2 loe dulu. Kalau dia beneran sayang sama loe, dia pasti mau ngerti. Buat urusan masa depan nanti, itu kan rahasia Allah. Kalau kalian emang jodoh pasti kan gak akan kemana juga.

Istikaharah dulu aja. Tanya sama Allah. Kalau loe emang siap, kan bisa aja kalian tunangan atau lamaran dulu. Tapi nikahnya nanti. Konsultasi sama Umimu di rumah. Beliau udah pengalaman dan pasti tau yang terbaik buat putri tercintanya ini. Hehehehe.

Gue cuma bisa kasih saran itu aja. Semuanya balik lagi ke loe dan Averous.

Oh iya. Gue lagi coba cari investor baru baut perusahaan gue. Doain ya sukses. Cepet dapet jodoh juga. Masa gue diduluin sama loe. Hhe. Sukses ya. Hati-hati di negara orang. Salam buat Averous.

~Rira    

99—————–66

Besamo Restaurant and Dining, Singapura

Lokasi dining ini memang sanagt berkelas. Suasananya yang romantis namun elegan tetap nyaman walau digunakan untuk urusan bisnis. Seperti malam ini. Dua pria sipit di hadapan ku ini masih asik berbicara tentang berbagai hal dengan si bos. Seperti inilah sebuah meeting di resto. Kesepakatan telah dicapai sejak tadi. Namun pembicaran semakin melebar kea rah yang semakin tak jelas. Untunglah si bos masih berbaik hati memberi ku hari esok sebagai liburan.

Jalanan Singapura yang tertib dan bersih membuatku nyaman hanya dengan melihat kondisi sekitar. Semua serba teratur di sini. Segera aku melangkahkan kaki ke suatu tempat yang sangat ingin ku kunjungi sedari tadi.

Sepertinya inilah tempat yang ku tuju. Terakhir kali aku mengunjungi tempat ini setahun yang lalu, kondisinya belum berubah jauh.

“Rira?!” seseorang berseru dan merengkuhku dalam pelukannya.

“Alida. Apa kabar? Kangeeeen,” rujukku manja. Inilah sahabatku yang lainnya. Dia telah menetap di negeri ini sejak hampir dua tahun yang lalu. Mengikuti pekerjaan suaminya.

“Siapa Ma?” sosok yang sangat ku kenal keluar dari dalam flat mungil mereka. Digendongannya, seorang anak laki-laki gemuk berumur dua tahun dengan mata sipit membuatnya lebih terlihat seperti bayi Asia Timur daripada bayi dengan orang tua asli Indonesia. Pipinya yang chubby membuat anak itu semakin menggemaskan.

“Oh. Rira. Masuk Ra..” Dira mempersilakanku masuk. Aku hanya mengangguk dan pergi mengikuti sang tuan rumah. Rupanya Alida sedang sibuk memasak untuk dua orang tamu special lain yang akan datang sebentar lagi. Kebetulan hari ini bertepatan dengan ulang tahun si kecil. Sambil membantu berbagai persiapan untuk pesta syukuran kecil ini, aku melepas kerinduanku dengan bercerita tentang berbagai hal dengan Alida. Topik utamanya jelas proposal dadakan seorang Averous.

“Wah! Apa kabar loe?! Makin gemukan loe ya sekarang? Jerman emang bikin subur kali ya,” seru Dira dengan riang. Terdengar seseorang memasuki ruangan bersama Dira.

“Hahahaha. Sial. Gak juga. Kan gue makin makmur di Jerman.”

Deg. Suara itu. Suara yang sangat ku kenal. Aku tak akan pernah melupakannya walaupun berada jauh di masa lalu.

“Itu..”

“Oh iya. Aku belum kasih tahu ya? Yang mau dateng itu Wildan sama Gilang .” Alida memberitahukannya seolah-olah itu bukankah sesuatu yang berarti. Namun aku bisa melihat senyum dikulumnya.

“Heh! Apaan sih?!”

“Apaan? Orang aku gak ngapa-ngapain kok. Cuma senyum.”

“Ya senyummu itu penuh makna,” seruku tak sabar.

“Ma, ini Wildannya udah dateng.” Tiba-tiba suara Dira terdengar penuh urgensi dari ruang tamu.

“Iya Pa,” jawab Alida. “Udah Ra, lumayan. Sekalian kontak jodoh,” ucapnya asal.

Reflex, aku melotot. Namun terpaksa mengikutinya keluar menemui sang tamu special.

Sosoknya langsung menarik perhatianku saat itu juga. Dia bukan lagi Wildan yang dulu. Tidak lagi kurus dengan gamis putihnya sampai-sampai dikatain Deisya seperti layang-layang. Pria yang saat ini berada di hadapanku adalah Wildan versi lain. Posturnya lebih proporsional sekarang. Polo shirt dan jeans yang digunakannya sangat menampakkan suasana santai yang berusaha dibawanya. Dia pun terlihat jauh lebih fresh. Namun lingkaran hitam di matanya hanya menceritakan satu hal. Lelah setelah perjalanan panjang menyeberangi samudra.

“Inget gak Dan ini siapa?” tanya Dira tiba-tiba.

“Inget lah. Rira kan?!” Aku hanya tersenyum kikuk medengar percakapan ini. Entah mengapa suasananya sangat tidak nyaman bagiku.

“Loh Dan, kok sendiri aja. Gilangnya mana?” Suara Alida berhasil memecah kesunyian yang terjadi. Ya. Pertanyaan ini juga yang belum terjawab sedari tadi. Kenapa tamu special yang datang hari ini hanya satu?! Bukan kah seharusnya dua orang?!

“Oh, iya. Lupa kasih tahu. Gilang minta maaf karena gak bisa dateng. Tiba-tiba dia dapet tugas mendadak buat ke Korea. Dan tugas ini bener-bener gak bisa dialihkan. Jadilah dia sendiri yang harus berangkat. Maaf banget katanya.”

“Oh, emang Gilang di mana sih sekarang?” tanyaku.

“Dia di Jepang Ra.”

Tiba-tiba suara tangis si kecil mengehentikan pembicaraan kami. Rupanya dia mulai mencoba menarik perhatian karena merasa dicuekin. Akhirnya sang papa dan mama memutuskan memulai saja acara syukuran kecil ini.

Setelah acara meniup lilin dan make a wish yang diwakili oleh Mama-Papanya, sesi foto-foto pun dimulai. Foto pertama: Si kecil, Alida, dan Dira. Foto kedua: Si kecil, aku, dan Wildan. Foto ketiga: Kami berlima. Setelahnya, acara makan-makan dan mengobrol santai. Mungkin ini adalah kali pertama aku ngobrol sama Wildan. Tiba-tiba gue tersenyum. Membayangkan bahwa apa yang akan terjadi di ruangan ini jika yang datang adalah aku versi delapan tahun yang lalu.

Saat menginjak sore, aku dan Wildan berpamitan kepada keluarga kecil yang sedang berbahagia menantikan anak kedua mereka itu. Ternyata kami menginap di hotel yang sama. Akhirnya kamu pun memutuskan untuk kembali ke hotel bersama-sama. Perjalanan menuju hotel menjadi perjalanan tersunyi dalam hidupku selama 10 menit pertama. Tetapi tidak pada menit-menit selanjutnya. Wildan akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.

Ping. Ping. Ping.  Ponselku berbunyi tanda pesan masuk.

 Gimana Wildan sekarang? Masih belum tertarik juga? Lumayan kan buat awal.. gak usah malu. Aku sama Dira emang sengaja ngundang kalian dengan modus kecan buta kok.. hhe

Sial! Jadi semua ini hanya jebakan belaka?! Huh! Ngambek pokoknya! Walaupun aku cukup kesal dengan ulah sahabatku dan suaminya itu, sisi hatiku yang lain mengajakku untuk meneliti lebih jauh ke dalamnya. Tak dapat dipungkiri bahwa Wildan memang pernah menghuni hatiku. Tapi itu hanyalah masa lalu. Jauh sebelum aku jatuh hati padanya. Seseorang yang hingga saat ini masih ku tunggu kepulangannya dari negeri Paman  Sam.

Megenai Wildan, ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Secara logika sederhana, jika Wildan memang pernah ada di sana, harusnya bukan hal yang sulit mengembalikan perasaan itu. Tapi aku bahkan tidak lagi merasakan getar-getar itu saat kami berjlan pulang bersama tadi. Bukankah itu sebuah pertanda?!

Ah sudahlah. Toh ini baru rencana Alida-Dira. Wildannya juga belum tentu mau. Bisa saja kan, di Jerman ada wanita yang telah menarik perhatiannya dan belum diketahui kedua makhluk sok tahu itu. Jadi, let it flow. Tunggu sampai Wildannya sendiri yang berbicara.

Saat esok harinya sebelum aku kembali ke Indonesia, aku dan Wildan tak sengaja bertemu di lobby hotel. Aku menyempatkan untuk menyapa dan berpamitan. Ia pun mengutarakan penyesalannya kerena tidak dapat kembali ke Indonesia dengan alasan tidak mendapatkan cuti  yang lebih panjang lagi. Padahal ia sangat merindukan Indonesia dan keluarganya. Sebelum benar-bener berpisah, kami saling bertukar alamat email. Dan pada hari-hari selanjutnya, aku tidak menyangka bahwa hubunganku dan Wildan akan menjadi suatu hubungan yang selama ini selalu aku harapkan.

99—————–66

 

Berita yang paling ku takutkan akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Rangga telah resmi menjadi pegawai di departemen luar negeri setelah menyelesaikan kerja magangnya di AS. Sebenarnya apa yang membuatku berekspektasi bahwa dia tidak akan lulus?! Seorang Rangga Perdana  pasti akan berhasil dengan kemampuannya yang tak perlu diragukan lagi. Mungkin semua itu hanya keegoisanku belaka yang menginginkan bahwa dia tak akan berhasil melakukannya.

Keinginan bahwa kami tak harus menjalani hubungan jarak jauh yang selalu kutakutkan. Keinginan bahwa aku akan selalu bersamanya di negeri ini. Karena walau bagaimanapun aku tak akan pernah bisa mengukuti penjelajahannya mengelilingi dunia. Aku tahu bahwa jenis hubungan semacam ini yang tak akan pernah bisa ku jalani. Itulah yang membuatku menunda untuk menerima lamarannya tahun lalu. Walaupun sebelah sisi hatiku berteriak bahwa aku telah terlalu nyaman dengan hubungan kami, aku tetap tak bisa memungkiri bahwa kondisi memaksa kami untuk melepaskannya.

Rangga tahu itu. Aku sangat tahu itu. Untuk itu, kami berusaha untuk mengakhirinya baik-baik. Pertimbangan sederhananya begini, perusahaanku di Indonesia dan menjadi diplomat adalah cita-cita kami sejak dahulu kala. Dan kami memamhami sebuah hubungan sebagai tempat dimana kami berdua bisa tetap bersama tanpa harus mengorbankan jati diri masing-masing. Cita-cita adalah bagian dari jati diri kami. Dan telah bersama kami bahkan sejak sebelum kami memiliki hubungan khusus ini. Toh jika Allah menginginkan kami untuk bersatu, pasti ia telah memiliki jalannya tersendiri unuk menyatukan kami.

Setelah konsultasi panjang dengan Deisya pun dia mengatakan bahwa lebih baik merelakan Rangga. Pertimbangannya terbentuk dari berbagai aspek. Deisya telah mengenal Rangga sejak mereka berada di kampus yang sama. Dan ia tahu betapa aku selau memimpikan perusahaan yang baru saja ku bangun. Terlebih kehadiran Wildan belakangan ini membuatnya semakin yakin bahwa Wildan memang dikirim untuk menggantikan Rangga. Tapi toh Wildan pun sekarang berada di Jerman, sangkalku. Apa bedanya dengan Rangga?!

Maka dengan ini, aku mendeklarasikan bahwa hubunganku dengan Rangga berakhir sampai di sini. Semua berakhir dengan baik. Tanpa air mata. Ku rasa, aku telah cukup dewasa untuk menjalani dengan logika. Bukan dengan persaan heboh ala anak SMA.

Sebulan kemudian

3 new mails. Dan hebatnya ketiga nama pengirimnya menggelitikku.

Email pertama. Pengirim: Deisya Tania. Good news. She accepts Averous’ proposal. Averous believes in them and doesn’t matter if he has to wait till next 2 years. So, if everything is fine, they’ll marry next year. But unfortunately, the ceremony will be held in Amsterdam. I wish Averous will fulfill his promise to give me a free ticket to Amsterdam. Hahahaha.

Email kedua. From: Rangga Perdana. He’ll be board in Argentina and work there for about 4 years. And the bigger news is he’s found another girlfriend with same profession and will be board in Argentina too. How lucky. Hope that they’ll be great there.

Email ketiga. The most unpredictable one. Ini dia emailnya.

From: Wildan.Gumilang@gmail.com

To      : Riraputri@yahoo.com

Hai Ra. Mungkin ini bukan waktu yang tepat buat bilang ini. Tapi aku gak tahu kapan lagi kesempatan semacam ini bakal dateng lagi. Really sorry if it makes you uneasy or something.

I just wanna try to ask you this. Would you marry me?

Kalimat itu udah lama banget mau aku tanyain ke kamu. Maaf ya Ra, aku udah tahu kisah kamu sama yang di Amerika dari Alida sama Deisya. Maka dari itu aku ngerasa kalau sekaranglah waktu yang paling tepat.

Sekali lagi maaf karena cuma bisa lewat email. Kalau menurut kamu keberadaan aku di Jerman jadi pengahalang, kamu gak usah khawatir. Aku bakal balik ke Indonesia tahun depan. Aku udah minta dimutasi ke kantor perwakilan Asia yang kebetulan di Jakarta. Aku berharap banget kamu mau terima lamaran aku ini. Aku beneran suka sama kamu. Sejak lama. Karena itu sama sekali bukan halangan. Believe me Ra. It’s not a obstraction. Aku bakal seneng banget kalau kamu mau nikah sama gue.

Wildan Gumilang

Gue speachless. Beneran gak tahu harus ngomong apa. Kaget. Really unpredictable. Kita bahkan bisa dibilang baru saling kenal. Ini mustahil namanya buat gue. Wildan udah mulai gila kayakanya. Gue harus ngomong langsung sama Wildan kalau semuanya gak segampang ini.

99—————–66

“Makasih banget ya Sya loe sempet-sempetin dateng,” ucapku penuh dengan perasaan haru.

“Apa sih Mba yang gak buat loe? “ kata Deisya kenes. Anak ini masih belum juga berubah. Padahal tak sampai 20 bulan lagi ia akan segera menikah. Averous yang berjalan di belakangnya hanya bisa tersenyum melihat sang calon istri.

“Makasih ya Ve. Titip Deisya ya,” kataku pada Averous. Seperti biasa, ia hanya tersenyum. Setelah bersalaman, ia memberikan ucapan selamat singkat padaku.

“Kalian—Wildan-loe dan Dira-Alida—kompak banget ya?! Untung udah gak ada Bagas, atau gak gue bisa gagal nikah,”bisik Averous tiba-tiba di telingaku. Nadanya bercanda. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Averous tidak mengetahui yang sebenarnya rupanya. Hahaha. Ya sudahlah, biarkan itu menjadi urusannya dan Deisya.

Sebelumnya Alida, Dira dan dua anak mereka yang lucu telah memberikan selamat pada kami. Inilah yang mungkin selama ini disebut cinta gak bakal kemana oleh ku dan Rangga. Walaupun pada awalnya aku menolak lamaran Wildan, kegigihannya dalam membujuk dan meyakinkanku, membuatnya kembali mendapatkan tempat di hatiku. Setelah pertimbangan panjang dan malam-malam konsultasi dengan-Nya, istikharah dan ketetapan hatiku memberinya jawaban YA.

Dan semua persiapan pernikahan kami dilakukan dalam waktu kurang dari 2 bulan. Awal pernikahan kami mungkin memang yang terberat. Di saat semua pasangan pengantin baru menikmati indahnya dunia milik berdua, aku dan Wildan harus terpisah selama hampir satu tahun. Wildan masih harus megurus berbagai administrasi mutasinya ke Indonesia. Semoga Allah melancarkan segalanya.

-hadiah ulang tahun yg ke-18 buat Mba sayang. Wish you all the best!

asmahanifah__

(Cerita yang terlalu indah ini,  ditulis *dengan kurang ajarnya*  oleh sahabat gw tercinta . Meskipun  telah mengalami beberapa perubahan demi keamanan,  inti ceritanya ga berubah kan? UTOPIS emang! :p hhaha~)

Advertisements

2 thoughts on “Then We Called it, UTOPIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s